Kuta Nari

Kuta Nari
Aku

Rabu, 29 Juni 2011

Kedekatan Ibu Pengaruhi Komitmen Anak Saat Dewasa

Pernah menjalin hubungan dengan pria yang tidak kunjung memberi tanda-tanda ingin lanjut ke tahap serius? Menurut studi terbaru yang dimuat pada jurnal Psychological Science, masalah sulit menjalin komitmen ternyata bisa berasal dari pola asuh yang ia terima saat masih kecil dan remaja.

Para peneliti menemukan, anak-anak balita yang diasuh dengan baik oleh ibu mereka cenderung tumbuh menjadi orang yang berkomitmen terhadap hubungan pada saat dewasa. Begitu juga jika pada saat remaja mereka telah belajar bagaimana menyelesaikan konflik dengan baik. Sementara, anak-anak dan remaja yang tidak dapat melalui fase ini dengan baik cenderung sulit untuk memasuki tahap lebih serius saat sedang menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.

Ternyata, menurut peneliti, kedua pengalaman di atas ini secara tidak langsung mengajarkan anak dan remaja apa itu komitmen. Rasa aman yang dialami anak-anak membuatnya menjadi lebih mudah mencintai orang lain. Sedangkan pada para remaja, keberanian menghadapi konflik membuatnya tumbuh sebagai pribadi yang tidak gampang lari dari kenyataan, termasuk pada saat hubungannya diterpa masalah pelik.
"Anak yang tumbuh bersama ibu yang dapat diandalkan, akan belajar untuk mengelola kebutuhannya sendiri dan membangun empati terhadap orang lain. Sementara dengan menghadapi konflik, para remaja akan belajar juga bagaimana supaya bisa didapat solusi yang bisa memuaskan kedua belah pihak," kata M. Minda Orina dari St. Olaf College, yang juga juru bicara dari Association for Psychological Science.
Sumber: KOMPAS

3 Mitos Seputar Obat Kumur

Berkumur sehabis menggosok gigi dapat membantu menjaga kesehatan gigi dan gusi. Namun, itu hanya tercapai apabila Anda paham bagaimana cara menggunakannya dengan benar. Menurut Dr Euan Swan dari Canadian Dental Association, Ottawa, manfaat yang diperoleh dari penggunaan cairan untuk berkumur atau mouthwash bergantung pada tipe produk yang Anda gunakan. Selain itu, penting bagi Anda untuk tidak terpengaruh berbagai kabar yang beredar seputar penggunaan mouthwash.

1. Semua jenis mouthwash baik untuk kesehatan
Ada baiknya Anda memilih jenis mouthwash yang tidak banyak mengandung alkohol, karena ini akan menyebabkan mulut jadi kering. Selain itu, mouthwash yang tinggi kadar alkoholnya juga dapat merusak jaringan di dalam mulut. "Pada sebagian orang, alkohol dapat menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif," kata Dr Lewis West, dokter gigi dari Toronto.
Pilihan mouthwash yang bebas alkohol bisa dijadikan alternatif, namun bahan-bahan lain di dalamnya juga dapat menimbulkan efek samping. Mouthwash dengan kandungan chlorhexidine misalnya, tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang karena dapat menghilangkan kemampuan indra pencecap Anda, serta berbahaya bila tertelan.

2. Mouthwash menghilangkan bau mulut
Aroma tidak sedap dari mulut memang akan hilang setelah berkumur, tapi sebenarnya efeknya hanya sebentar. Apalagi bila yang Anda gunakan adalah cairan kumur yang mengandung banyak alkohol. Bukannya nafas tak sedap hilang, malah makin tercium baunya! Menurut pakar, sebenarnya aroma tak sedap yang dihasilkan dari makanan, sebut saja bawang putih, berasal dari paru-paru pada saat Anda mengembuskan napas.Jadi, berkumur dengan mouthwash beraroma segar tidak akan terlalu membantu. Selain itu, saliva di mulut Anda juga cenderung melarutkan obat kumur. Pada beberapa kasus, protein di dalam saliva dapat mengurangi efektivitas bahan-bahan yang ada dalam obat kumur

3. Kumur sebentar, lalu buang
Berkumur dengan mouthwash tidaklah secepat yang Anda lihat di iklan televisi. Menurut ahli, sebagian besar mouthwash baru dapat bekerja dengan efektif apabila berada dalam mulut Anda selama 30 detik untuk sekali kumur. Sayangnya, banyak orang yang mengatakan bahwa aroma mouthwash yang kuat dan sangat menyengat itu membuat mereka tidak dapat menahannya di mulut selama itu.
"Intinya, jika Anda mau mendapat manfaat dari mouthwash, gunakan sesuai aturan pakainya," kata Dr Swan. Bila tidak, hasilnya tidak akan maksimal.
Sumber: KOMPAS

Rabu, 22 Juni 2011

Tanah Karo exotic Dance

Ditemukan, Suku Terasing di Amazon

Sekelompok suku terasing ditemukan di kedalaman hutan Amazon, Brasil. Posisi mereka diketahui dari pengamatan udara.
Suku itu terdiri dari sekitar 200 orang dan perkampungan mereka terletak di Lembah Javari, dekat dengan perbatasan Peru, demikian dikatakan  Fabricio Arnorim dari National Indian Foundation (Funai).
Dari pengamatan di udara ditemukan empat desa luas dengan beberapa gubuk dan kebun jagung dan pisang, kata Funai.
"Kebun, juga gubuknya, terlihat baru, paling lama sekitar setahun," ujar Arnorim.
Umur gubuk dilihat dari jerami yang digunakan dan tanaman jagungnya. Selain jagung, ada pohon pisang dan sejumlah tanaman rambat, seperti kacang.
Suku itu belum pernah melakukan kontak dengan dunia luar. Selain itu, pemerintah Brasil pun melarang masyarakat umum "menyentuh" suku-suku terasing karena kekhawatiran mereka membawa penyakit.
Wilayah Lembah Javari kini terancam pembalakan, pemancingan, dan pencarian emas liar. Juga oleh pelaku perdagangan narkoba yang beroperasi di wilayah itu.
Menurut Arnorim, suku itu kemungkinan bagian masyarakat berbahasa Pano. Pihak Funai sendiri belum melakukan kontak dengan suku itu.
Lembah Javari dianggap memiliki "konstentrasi terpadat suku terasing di Amazon dan dunia". Kawasan itu diperkirakan menjadi rumah bagi sekitar 2.000 orang dari setidaknya 14 suku terasing.
 Sumber: KOMPAS

Waspada, Keripik Juga Bikin Gemuk



Keripik ternyata menjadi salah satu penyebab kegemukan yang wajib diwaspadai, jauh lebih besar daripada soda, permen, atau es krim. Makanan ringan ini mengandung kalori yang cukup tinggi.
"Keripik memang enak dan memiliki tekstur yang menarik. Orang juga tidak puas hanya makan satu atau dua keripik, tetapi satu kantong," kata Dr F Xavier Pi-Sunyer dari St Luke-Roosevelt Hospital Center, New York, Amerika Serikat.
Dalam riset terbaru ini disebutkan bahwa pilihan dan kebiasaan makan menjadi penyebab utama kegemukan. "Tidak ada cara mudah untuk mendapatkan berat badan ideal. Olahraga dan pengaturan pola makan wajib diperhatikan, tetapi pola makan jelas paling berpengaruh," kata Dr Frank Hu.
Tim peneliti menganalisa pola makan dan gaya hidup 120.877 orang dari tiga penelitian jangka panjang. Seluruh responden adalah petugas kesehatan dan tidak kegemukan ketika penelitian dimulai. Berat badan para responden diukur setiap empat tahun selama dua dekade. Mereka juga mengisi kuesioner seputar pola makan. Secara umum para partisipan mengalami kenaikan berat badan 7,7 kilogram (kg) dalam 20 tahun.
Keripik kentang diketahui menjadi penyebab kegemukan. Setiap saji (15 keripik) mengandung 160 kalori dan akan menyebabkan penambahan berat badan 0,7 kg dalam empat tahun. Lebih besar jika dibandingkan dengan makanan manis dan dessert yang menyebabkan penambahan sekitar 0,4 kg.
Dari kelompok kentang, kentang goreng (french fries) adalah yang paling buruk dampaknya bagi pinggang dibandingkan dengan kentang rebus atau panggang. Setiap satu saji kentang goreng mengandung 500-600 kalori.
Sementara itu, kebiasaan minum soda akan menyebabkan peningkatan berat badan 0,4 kg setiap empat tahun.
Selain pola makan, penyebab kegemukan lainnya adalah gaya hidup pasif, seperti terlalu lama duduk di depan televisi, minum alkohol, serta kurang tidur.
Para ahli menjelaskan, apa yang kita makan dan kebiasaan kita dalam mengonsumsinya jauh lebih berpengaruh daripada olahraga dan rencana penurunan berat badan jangka panjang.
Kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli dari Harvard University dan dimuat dalam New England Journal of Medicine. Ini merupakan riset paling komprehensif mengenai efek makanan individu dan gaya hidup, seperti pola tidur dan kebiasaan merokok.
Kegemukan yang saat ini menjadi masalah di banyak negara menjadi masalah kesehatan yang mendapat perhatian serius. Kegemukan bukan hanya soal estetika, tetapi dipandang sebagai penyakit. Banyak orang yang berusaha mati-matian untuk menurunkan berat badannya, tetapi tidak menyadari apa yang membuat bobot mereka melonjak.
Sumber: KOMPAS

Selasa, 21 Juni 2011

Budaya Karo - Sejarah Marga-Marga


Berdasarkan Keputusan Kongres Kebudayaan Karo. 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi, pemakaian merga didasarkan pada Merga Silima, yaitu ;
  1. Ginting
  2. Karo-Karo
  3. Peranginangin
  4. Sembiring
  5. Tarigan
Sementara Sub Merga, dipakai di belakang Merga, sehingga tidak terjadi kerancuan mengenai pemakaian Merga dan Sub Merga tersebut.
Adapun Merga dan Sub Merga serta sejarah, legenda, dan ceritanya adalah sebagai berikut
  1. Merga Ginting Merga Ginting terdiri atas beberapa Sub Merga seperti :
    • Ginting Pase Ginting Pase menurut legenda sama dengan Ginting Munthe. Merga Pase juga ada di Pak-Pak, Toba dan Simalungun. Ginting Pase dulunya mempunyai kerajaan di Pase dekat Sari Nembah sekarang. Cerita Lisan Karo mengatakan bahwa anak perempuan (puteri) Raja Pase dijual oleh bengkila (pamannya) ke Aceh dan itulah cerita cikal bakal kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Untuk lebih jelasnya dapat di telaah cerita tentang Beru Ginting Pase.
    • Ginting Munthe Menurut cerita lisan Karo, Merga Ginting Munthe berasal dari Tongging, kemudian ke Becih dan Kuta Sanggar serta kemudian ke Aji Nembah dan terakhir ke Munthe. Sebagian dari merga Ginting Munthe telah pergi ke Toba (Nuemann 1972 : 10), kemudian sebagian dari merga Munthe dari Toba ini kembali lagi ke Karo. Ginting Muthe di Kuala pecah menjadi Ginting Tampune.
    • Ginting Manik Ginting Manik menurut cerita masih saudara dengan Ginting Munthe. Merga ini berasal dari Tongging terus ke Aji Nembah, ke Munthe dan Kuta Bangun. Merga Manik juga terdapat di Pak-pak dan Toba.
    • Ginting Sinusinga
    • Ginting Seragih Menurut J.H. Neumann (Nuemann 1972 : 10), Ginting Seragih termasuk salah satu merga Ginting yang tua dan menyebar ke Simalungun menjadi Saragih, di Toba menjadi Seragi.
    • Ginting Sini Suka Menurut cerita lisan Karo berasal dari Kalasan (Pak-Pak), kemudian berpindah ke Samosir, terus ke Tinjo dan kemudian ke Guru Benua, disana dikisahkan lahir Siwah Sada Ginting (Petra : bacanya Sembilan Satu Ginting), yakni :
      • Ginting Babo
      • Ginting Sugihen
      • Ginting Guru Patih
      • Ginting Suka (ini juga ada di Gayo/Alas)
      • Ginting Beras
      • Ginting Bukit (juga ada di Gayo/Alas)
      • Ginting Garamat (di Toba menjadi Simarmata)
      • Ginting Ajar Tambun
      • Ginting Jadi Bata
      Kesembilan orang merga Ginting ini mempunyai seorang saudara perempuan bernama Bembem br Ginting, yang menurut legenda tenggelam ke dalam tanah ketika sedang menari di Tiga Bembem atau sekarang Tiga Sukarame, kecamatan Munte.
    • Ginting Jawak Menurut cerita Ginting Jawak berasal dari Simalungun. Merga ini hanya sedikit saja di daerah Karo.
    • Ginting Tumangger Marga ini juga ada di Pak Pak, yakni Tumanggor.
    • Ginting Capah Capah berarti tempat makan besar terbuat dari kayu, atau piring tradisional Karo. (Petra : Which is saya juga belum tahu yang mana, atau tahu tapi gak tau sebutannya smiley)
  2. Merga Karo-Karo Merga Karo-Karo terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu :
    • Karo-Karo Purba Merga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular.
      Dari isteri umang lahirlah merga-merga :
      • Purba Merga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.
      • Ketaren Dahulu merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).
      • Sinukaban Merga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban..
      Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni merga-merga :
      • Karo-Karo Sekali Karo-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.
      • Sinuraya/Sinuhaji Merga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.
      • Jong/Kemit Merga ini mendirikan kampung Mulawari.
      • Samura
      • Karo-Karo Bukit
      Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal.
    • Karo-Karo Sinulingga Merga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga.
      Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :
      • Kaban Merga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,
      • Kacaribu Merga ini medirikan kampung Kacaribu.
      • Surbakti Merga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong.
      Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai Karo-Karo Ulun Jandi. Merga Lingga juga terdapat di Gayo/Alas dan Pak Pak.
    • Karo-Karo Kaban Merga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin.
    • Karo-Karo Sitepu Merga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.
    • Karo-Karo Barus Merga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Sibelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.
      (Petra : Wuih, sejarah nenek moyang gw jelek juga, ya….)
    • Karo-Karo Manik Di Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik.

  3. Merga Peranginangin Merga Peranginangin terbagi atas beberapa sub merga, yakni :
    • Peranginangin Sukatendel Menurut cerita lisan, merga ini tadinya telah menguasai daerah Binje dan Pematang Siantar. Kemudian bergerak ke arah pegunungan dan sampai di Sukatendel. Di daerah Kuta Buloh, merga ini terbagi menjadi :
      • Peranginangin Kuta Buloh Mendiami kampung Kuta Buloh, Buah Raja, Kuta Talah (sudah mati), dan Kuta Buloh Gugong serta sebagian ke Tanjung Pura (Langkat) dan menjadi Melayu.
      • Peranginangin Jombor Beringen Merga ini mendirikan, kampung-kampung, Lau Buloh, Mburidi, Belingking,. Sebagian menyebar ke Langkat mendirikan kampung Kaperas, Bahorok, dan lain-lain.
      • Peranginangin Jenabun Merga ini juga mendirikan kampong Jenabun,. Ada cerita yang mengatakan mereka berasal dari keturunan nahkoda (pelaut) yang dalam bahasa Karo disebut Anak Koda Pelayar. Di kampung ini sampai sekarang masih ada hutan (kerangen) bernama Koda Pelayar, tempat pertama nahkoda tersebut tinggal.
    • Peranginangin Kacinambun Menurut cerita, Peranginangin Kacinambun datang dari Sikodon-kodon ke Kacinambun.
    • Peranginangin Bangun Alkisah Peranginangin Bangun berasal dari Pematang Siantar, datang ke Bangun Mulia. Disana mereka telah menemui Peranginangin Mano. Di Bangun Mulia terjadi suatu peristiwa yang dihubungkan dengan Guru Pak-pak Pertandang Pitu Sedalanen. Di mana dikatakan Guru Pak-pak menyihir (sakat) kampung Bangun Mulia sehingga rumah-rumah saling berantuk (ersepah), kutu anjing (kutu biang) mejadi sebesar anak babi. Mungkin pada waktu itu terjadi gempa bumi di kampung itu. Akibatnya penduduk Bangun Mulia pindah. Dari Bangun Mulia mereka pindah ke Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, Jandi Meriah, Selandi, Tapak, Kuda dan Penampen. Bangun Penampen ini kemudian mendirikan kampung di Tanjung. Di Batu Karang, merga ini telah menemukan merga Menjerang dan sampai sekarang silaan di Batu Karang bernama Sigenderang.
      Merga ini juga pecah menjadi :
      • Keliat Menurut budayawan Karo, Paulus Keliat, merga Keliat merupakan pecahan dari rumah Mbelin di Batu Karang. Merga ini pernah memangku kerajaan di Barus Jahe, sehingga sering juga disebut Keliat Sibayak Barus Jahe.
      • Beliter Di dekat Nambiki (Langkat), ada satu kampung bernama Beliter dan penduduknya menamakan diri Peranginangin Beliter. Menurut cerita, mereka berasal dari merga Bangun. Di daerah Kuta Buluh dahulu juga ada kampung bernama Beliter tetapi tidak ditemukan hubungan anatara kedua nama kampung tersebut. Penduduk kampung itu di sana juga disebut Peranginangin Beliter.
    • Peranginangin Mano Peranginangin Mano tadinya berdiam di Bangun Mulia. Namun, Peranginangin Mano sekarang berdiam di Gunung, anak laki-laki mereka dipanggil Ngundong.
    • Peranginangin Pinem Nenek moyang Peranginangin Pinem bernama Enggang yang bersaudara dengan Lambing, nenek moyang merga Sebayang dan Utihnenek moyang merga Selian di Pakpak.
    • Sebayang Nenek Moyang merga ini bernama Lambing, yang datang dari Tuha di Pak-pak, ke Perbesi dan kemudian mendirikan kampung Kuala, Kuta Gerat, Pertumbuken, Tiga Binanga, Gunung, Besadi (Langkat), dan lain-lain. Merga Sembayang (Sebayang) juga terdapat di Gayo/Alas.
    • Peranginangin Laksa Menurut cerita datang dari Tanah Pinem dan kemudian menetap di Juhar.
    • Peranginangin Penggarun Penggarun berarti mengaduk, biasanya untuk mengaduk nila (suka/telep) guna membuat kain tradisional suku Karo.
    • Peranginangin Uwir
    • Peranginangin Sinurat Menurut cerita yang dikemukakan oleh budayawan Karo bermarga Sinurat seperti Karang dan Dautta, merga ini berasal dari Peranginangin Kuta Buloh. Ibunya beru Sinulingga, dari Lingga bercerai dengan ayahnya lalu kawin dengan merga Pincawan. Sinurat dibawa ke Perbesi menjadi juru tulis merga Pincawan (Sinurat). Kemudian merga Pincawan khawatir merga Sinurat akan menjadi Raja di Perbesi, lalu mengusirnya. Pergi dari Perbesi, ia mendirikan kampung dekat Limang dan diberi nama sesuai perladangan mereka di Kuta Buloh, yakni Kerenda.
    • Peranginangin Pincawan Nama Pincawan berasal dari Tawan, ini berkaitan dengan adanya perang urung dan kebiasaan menawan orang pada waktu itu. Mereka pada waktu itu sering melakukan penawanan-penawanan dan akhirnya disebut Pincawan.
    • Peranginangin Singarimbun Peranginangin Singarimbun menurut cerita budayawati Karo, Seh Ate br Brahmana, berasal dari Simaribun di Simalungun. Ia pindah dari sana berhubung berkelahi dengan saudaranya. Singarimbun kalah adu ilmu dengan saudaranya tersebut lalu sampailah ia di Tanjung Rimbun (Tanjong Pulo) sekarang. Disana ia menjadi gembala dan kemudian menyebar ke Temburun, Mardingding, dan Tiga Nderket.
    • Peranginangin Limbeng Peranginangin Limbeng ditemukan di sekitar Pancur Batu. Merga ini pertama kali masuk literatur dalam buku Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH berjudul Sejarah dan Kebudayaan Karo.
    • Peranginangin Prasi Merga ini ditemukan oleh Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH di desa Selawang-Sibolangit. Menurut budayawan Karo Paulus Keliat, merga ini berasal dari Aceh, dan disahkan menjadi Peranginangin ketika orang tuanya menjadi Pergajahen di Sibiru-biru.

Asal mula kalak Karo


Seh ngayak gundari langnga ieteh payona ija nari asal rehna ras jadina kalak Karo, bagekape erti si lit ibas kata Karo e. Em dalinna maka lit piga-piga kalak Karo si enggo megajang pemetehna nggit ertutus ate ndarami, nungkuni bagepe nggar-gari, ija nari kin situhun asal kalak Karo e, kai ertina ras ndiganai mulai enggo lit.
Tapi anem bagepe langnga kabo teridah terombo si tangkas mereken kiniteken ras man gelemen man kalak Karo, terlebih lalit tersinget turi-turin terombo entahpe pustaka sini tadingken nininta siadi sibanci man ogen ras man pergemeten kalak Karo si erpemeteh.
Lit nge tuhu sitersinget ras singataken maka kalak Karo e rehna ibas gelar sada Kerajaan Simbelin si enggo pernah lit kira-kira ibas tahun 1593 eme siigelari Kerajaan Haru. Nupung sie Kerajaan Haru mbelang kuasana mulai i perbalengen Kerajaan Siak nari sehpe ku Sungai Wampu. Tapi erkiteken Kerajaan Haru enda talu erperang ras Kerajaan Acih, emaka rayatna enggo marpar lit ku Asahen, ku Simalungun, ku Singkel, ku Pak-pak, lit ka ku Acih (Alas-Gayo). Sitading ibas ingan kalak Karo sigundari eme Karo Gugung, Karo Timur (Simalungun), Karo Baluren (Dairi), Karo Acih, Karo Jahe (Deli ras Serdang), Karo Bingei (Bahorok - Langkat) eme sinigelari kalak Karo.
Bagem silit tersinget, tapi kerna sie perlu denga terdauhen isik-sik ras ipelajari alu pemeteh simeganjang, maka banci dat situhuna ras sipayona. Kerna sie perlu ras mbelin gunana maka ola dat turi-turin si la payo si banci erbahan sinursur kalak Karo pagi ikut papak ngelakokenca.

Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut Suku Bangsa Karo. Suku Bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi Suku Bangsa Karo sendiri.

Suku ini terdiri dari lima Merga, Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu.
Merga silima yakni:
1. Karo-karo
2. Ginting
3. Sembiring
4. Tarigan
5. Perangin-angin

Dari kelima Merga diatas, masih terdapat sub-sub Merga.
Berdasarkan merga ini maka tersusunlah pola kekerabatan atau dikenal dengan Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh dan Perkade-kade Sepuluh Dua Tambah Sada.

Rakut Sitelu yaitu:
1. Senina/Sembuyak
2. Kalimbubu
3. Anak Beru

Tutur Siwaluh yaitu:
1. Sipemeren
2. Siparibanen
3. Sipengalon
4. Anak Beru
5. Anak Beru Menteri
6. Anak Beru Singikuri
7. Kalimbubu
8. Puang Kalimbubu

Perkade-kaden Sepuluh Dua:
1. Nini
2. Bulang
3. Kempu
4. Bapa
5. Nande
6. Anak
7. Bengkila
8. Bibi
9. Permen
10. Mama
11. Mami
12. Bere-bere

Dalam perkembangannya, adat Suku Bangsa Karo terbuka, dalam arti bahwa Suku Bangsa Indonesia lainnya dapat diteria menjadi Suku Bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Masyarakat Karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan merebut Kemerdekaan Indonesia, misalnya pertempuran melawan Belanda, Jepang, politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang didirikan pada tahun 1950.

Penduduk Kabupaten Karo adalah dinamis dan patriotis serta takwa kepada Tuhan Yang Esa. Masyarakat Karo kuat berpegang pada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembamgunan. Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan
harapan (sura-sura pusuh peraten) yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) hal pokok yang disebut Tuah, Sangap, dan Mejuah-juah

Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin, dan menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang,

Sangap [/b]berarti mendapat rejeki yang banyak, kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi yang akan datang.

Mejuah-juah [/b]berarti sehat sejahtera lahir batin, aman, damai, bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan. Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang buat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.